Indonesian System Dynamics Society

12 Februari 2007

Menjadikan Perguruan Tinggi Sebagai Pembangkit Kewirausahaan

Filed under: Konsep ttg Pembangunan Pemda — irf4n @ 3:45 am

Oleh: Fadel Muhammad

Perguruan Tinggi sebagai katalis tumbuhnya entrepreneurial mind

Dalam buku saya yang terbit Nopember 2000 lalu , saya menekankan pentingnya menyiapkan lapisan entrepreneur berbasis perguruan tinggi. Harus diakui bahwa kondisi Perguruan Tinggi di Indonesia belum kondusif untuk membangun mindset entrepreneur. Mindset adalah world of view, yang saya maksudkan disini adalah kemampuan untuk melihat dan memahami dunia secara berbeda dibandingkan dengan kebanyakan orang. Dengan mindset entrepreneur seseorang menjadi memiliki kemampuan untuk toleran terhadap perbedaan, bersedia dan siap belajar dari situasi-situasi baru dan mampu berfikir divergen.

Suatu saat saya pernah menghadap Rektor Universitas Indonesia (UI), ketika itu masih dijabat Prof. Dr. Mahar Mardjono. Saya mengundang sejumlah mahasiswa UI untuk bekerja magang di tempat saya. Lalu Prof. Mahar memanggil lima mahasiswa. “Kamu mau bekerja magang di tempat Bung Fadel?” begitu kata Prof. Mahar kepada mahasiswanya..

Saya melihat raut wajah mahasiswa yang diundang untuk bekeja di bengkel saya itu tidak menunjukkan antusiasme. Mereka malah menunjukkan sikap kurang percaya diri. Mereka memiliki ilmu pengetahuan, tetapi tidak tahu bagaimana menerapkannya. Melihat pengalaman itu, maka semakin terobsesi tekad saya untuk menyebarkan virus entrepreneurship di kalangan mahasiswa.. Obsesi saya bertambah bulat setelah melihat fakta bahwa hampir sekitar 35% luluan perguruan tinggi tidak terserap di lapangan kerja.

Perguruan Tinggi adalah institusi yang bisa menumbuhkan cara pandang yang tidak myopik karena memiliki tradisi dialog. Dengan dialog, pengetahuan entrepreneurship yang memiliki dua sifat yaitu tacit knowledge dan explicit knowledge bisa disebarkan dengan efek spiral. Tacit knowledge adalah bersifat personal, konteksnya spesifik, sulit untuk dikomunikasikan dan diformalisasikan. Kebalikan dengan explicit knowledge, yaitu pengetahuan yang terkodifikasi, mudah ditransmisikan secara sistematik melalui kata dan angka.

Persoalan yang dihadapi oleh perguruan tinggi sekarang ini apakah sudah siap dengan infrastruktur yang memungkinkan tumbuhnya iklim kondusif untuk dialog sehingga terjadi konversi pengetahuan dari tacit knowledge menuju explicit knowledge.

Berdasarkan berbagai referensi dan pengalaman, saya mempersepsikan kewirausahaan ke dalam 7 ciri utama. Ketujuh ciri utama itu merupakan identitas yang melekat pada seorang wiraswasta.

1. Kepemimpinan. Kepemimpinan yang ada pada sosok entrepreneur ditandai dengan (a) kemampuan berorientasi pada tujuan/sasaran; (b) dalam hubungan kerja mampu menghadirkan suasana personal; (c) kepemimpinannya efektif.

2. Inovasi. Inovasi yang dimaksudkan disini adalah kemampuan menyiasati berpindahnya sumber daya ekonomi yang tersedia di lingkungan produktivitas rendah ke lingkungan berproduktivitas tinggi dan mendapatkan hasil yang lebih besar. Dengan kata lain menghadirkan sesuatu yang memberikan manfaat bagi orang lain yang sebelumnya tidak dipikirkan.

3. Cara pengambilan keputusan. Entrepreneur dalam mengambil keputusan memiliki gaya yang berbeda, mereka lebih didominasi oleh otak kanan yang lebih mengedepankan berfikir kreatif.

4. Sikap tanggap terhadap perubahan. Entrepreneur. Entrepreneur selalu bereaksi positif terhadap perubahan.

5. Working smart. Mampu bekerja secara efektif dan efisien.

6. Mempunyai visi masa depan., yaitu pencerminan komitmen – kompetensi – konsistensi. Entrepreneur senantiasa setia pada komitmnnya dengan melakukan kegiatan-kegitan yang hanya ada kompetensinya dengan pengembangan dirinya. Dengan demikian, ia senantiasa tampil konsisten.

7. Sikap terhadap risiko. Entrepreneur cenderung opportunity focused bukan risk focused..

Perguruan tinggi yang mempunyai tradisi dialog untuk ke depan harus mau mengambil prakarsa mengkonversi pengetahuan kewirausaan yang ada di dunia usaha ke masyarakat akademik. Yang sudah dilakukan oleh pendidikan tinggi dan menjadi tradisi masyarakat keilmuan adalah melakukan combination: dari explicit knowledge yang satu ke explicit knowledge lainnya, yaitu proses mensistematisasikan konsep ke dalam sistem pengetahuan. Konversi pengetahuan ini mencakup menggabungkan body of knowledge yang berbeda-beda sehingga diperoleh body of knowledge baru. Pendidikan magister manajemen yang diselenggarakan oleh pendidikan tinggi adalah salah satu contohnya.

Cara kedua adalah internalization: dari explicit ke tacit. Ini adalah proses mewujudkan explicit knowledge menjadi tacit knowledge. Proses ini erat kaitannya dengan “learning by doing”. Ketika pengalaman yang dimiliki individu digabungkan dengan explicit knowledge itu diinternalisasikan melalui sosialisasi, eksternalisasi, dan kombinasi maka terbentuk tacit knowledge. Tacit knowledge yang menjadi basis mental model itu merupakan aset yang sangat berharga bagi organisasi. Tacit knowledge yang ada pada level individu harus disebarkan ke level organisasi, dengan penyebaran tersebut dimulailah suatu new spiral knowledge creation. Perguruan Tinggi yang berhasil menempatkan dirinya sebagai perguruan tinggi unggulan dan banyak melahirkan entrepreneur salah satunya adalah disebabkan pada kemampuanya melakukan internalisasi pengalaman dan pengetahuan sehingga bisa membentuk tacit knowledge pada komunitas akademik. Tacit knowledge ini juga memberikan sumbangan bagi terbentuknya core competency.

Ketiga, eksternalisasi. Adalah proses mengartikulasikan tacit knowledge menjadi explicit knowledge. Ini adalah inti dari proses pembentukan pengetahuan, tacit knowledge diubah menjadi explicit knowledge. Untuk ke depan perguruan tinggi harus proaktif melakukan dialog dengan komunitas yang memiliki tacit knowledge (dalam hal ini kalangan entrepreneur) dengan masyarakat akademik sehingga akan menciptakan proliferasi pengetahuan (yang sifatnya tacit) dan akhirnya menjadi explicit. Mengundang para entrepreneur dan kalangan dunia usaha ke kampus untuk berbagi pengalaman secara berkesinambungan memungkinkan masyarakat akademik bisa mengkonstuksi pengetahuan kewirausahaan melalui metafora, analogi, konsep, atau model kewirausahaan yang eksplisit dan bisa dipelajari oleh siapapun.

Keempat, sosialissi. Sosialisasi adalah proses berbagi pengalaman. Individu dapat memperoleh tacit knowledge secara langsung dari lainnya tanpa menggunakan bahasa. Kerja magang adalah salah satu cara untuk mendapatkan tacit knowledge, dari magang ini individu dapat melakukan observasi, imitasi, dan mempraktekan apa yang telah dilihatnya. Sekarang ini masih sedikit sekali dosen yang melakukan magang di industri, juga masih sedikit perusahaan yang memberikan kesempatan kepada mereka.

Entrepreneuralism sebagai ideologi bisnis abad 21

Ernst & Young sebuah perusahaan konsultan internasional dalam penelitiannya pada tahun 1998 tentang visi entrepreneuralism terhadap 500 pengusaha terkemuka di Amerika diperoleh temuan yang menarik.

· Entrepreneuralism akan menjadi “defining trend of the business” pada abad 21.

· Akan semakin banyak orang yang memasuki kegiatan kewirausahaan.

· Entrepreneuralism akan meningkat di seantero penjuru dunia, termasuk di negara-negara yang tidak masuk sebagai negara industri seperti di Afrika dan Timur Tengah.

· Peluang kewirausahaan yang menjanjikan pada abad ini adalah sektor teknologi / internet,kedokteran, food service / hospitality, layanan informasi / manajemen informasi.

· Lingkungan ekonomi entrepreneurial ditandai oleh “penekanan yang lebih besar pada “personal fulfillment”, “inovasi yang meningkat”, dan “creative work arrangement”.

Tanda-tanda jaman ini yang harus ditangkap oleh masyarakat kampus, terutama mahasiswa. Pada abad ini entrepreneurship memberikan unlimited opportunity terutama kepada mereka yang mampu menjalin creative work arrangement.

Dunia sekarang sudah berubah. Semua bangsa di dunia berusaha mengubah dirinya untuk menjadi makmur melalui jalan industri. Negara-negara di Asia Timur adalah sebuah contoh keberhasilan dari suatu bangsa yang dalam waktu kurang dari 50 tahun mampu mengubah dirinya dari negara agraris menjadi negara industri. Kemampuan industrial bangsa-bangsa Asia Timur (Jepang, Korea dan Taiwan) telah mencengangkan negara-negara industri lama (Barat). Kemajuan-kemajuan yang dicapai oleh ketiga negara tersebut tidak lepas dari adanya tantangan yang berkesinambungan dan adanya proliferasi entrepreneurial mind. Jepang dihadapkan kelangkaan pada sumber daya alam dan keinginan membangkitkan kembali kejayaan industri Jepang yang porak poranda akibat perang. Korea Selatan selalu berada dalam ancaman Korea Utara, untuk menunjukkan bahwa Korea Selatan yang lebih unggul dan makmur dari Korea Utara tidak ada pilihan lain kecuali menjadikan industri sebagai tulang punggung ekonomi Korea Selatan. Demikian juga Taiwan agar tidak dipandang sebelah mata oleh Cina maupun masyarakat internasional.

Korea menghadapi krisis pada waktu yang bersamaan dengan Indonesia tapi kini sudah mendekati pulih. Keberhasilan mereka tidak lepas dari keberadaan lapisan masyarakat yang menjadikan prestasi sebagai suatu terminal sementara untuk mencapai suatu kemajuan. Selain itu nilai-nilai entrepreneurship telah menyebar ke semua lapisan. Indonesia yang berusaha mengejar ketinggalan dari negara lain dengan mentransformasikan masyarakat agraris menuju masyarakat industri melalui program pembangunan jangka panjang sudah membuahkan prestasi, sayang krisis ekonomi menerpa sehingga prestasi itu menjadi tidak berarti. Sektor industri adalah kontributor terbesar pembentukan PDB Indonesia (23,47%) sementara sektor pertanian (17,40%) data tersebut adalah data sebelum krisis. Dengan semakin berperannya sektor industri sebagai tulang punggung ekonomi muncul suatu ironi, saat ini di Indonesia terdapat 322.750 penganggur intelektual, jumlah itu akan meningkat menjadi dua kalinya bila ditambah dengan mereka yang kini mengalami PHK. Tingginya angka pengangguran terdidik ini tidak lepas dari rendahnya etos kerja lulusan perguruan tinggi dan tidak adanya entrpreneurial mindset.

Entrepreneurship: Sesuatu Yang bisa dipelajari

Keengganan lulusan perguruan tinggi memilih menjadi entrepreneur salah satunya karena terjebak dalam mitos. Mitos pertama adalah entrepreneur itu dilahirkan, bukan diciptakan. Ada pemikiran yang telah menjadi mainstream bahwa karakteristik entrepreneur itu tidak dapat dipelajari karena sudah melekat pada si entrepreneur itu sendiri sejak mereka dilahirkan. Mitos tersebut tidak sepenuhnya benar. Sekarang ini di perguruan tinggi telah dibuka program studi kewirausahaan. Ini adalah suatu bentuk pengakuan bahwa kewirausahaan itu bisa dipelajari seperti disiplin ilmu lainnya. Sekarang sudah banyak tulisan ilmiah tentang kajian entrepreneur. Salah satu situs yang banyak menyajikan tulisan ilmiah tentang entrepreneurship adalah: http:/www.babson.edu.

Mitos kedua, entrepreneur adalah selalu seorang penemu. Pemikiran bahwa entrepreneur sama dengan inventor adalah hasil dari kekeliruan memahami visi entrepreneurr. Memang banyak inventor juga sekaligus sebagai entrepreneur. Tetapi tidak kurang banyaknya orang menjadi entrepreneur karena kemampuannya melakukan berbagai macam inovasi. Untuk contoh, Ray Kroc ia bukanlah penemu fast food franchise, tapi dengan gagasan inovatifnya ia berhasil menjadikan McDonald sebagai perusahaan fast-food terbesar di dunia.

Mitos ketiga, untuk menjadi entrepreneur diperlukan luck atau hokie. Sebenarnya entrepreneur yang berhasil adalah yang mampu berada pada tempat dan waktu yang tepat bukan karena hokie. Luck baru akan terjadi bila persiapan itu bertemu dengan kesempatan. Entrepreneur selalu membuat persiapan (skill, wawasan, network) untuk mengkapitalisasi kesempatan. Kesempatan berusaha itu senantiasa tersedia dan semua kesempatan usaha yang tersedia relatif menarik. Yang menjadi persoalan, justru pada calon wiraswastawan itu sendiri. Apakah mereka tertarik atau tidak. Ketertarikan itu ditentukan oleh kualitas dan tingkat kapabilitas seseorang. Bagi wiraswastawan yang inovatif, peluang usaha senantiasa dapat ia temukan dalam rumusan yang jelas. Yang menjadi penting di sini adalah menghayati perubahan yang senantiasa mengandung peluang. Kemampuan penghayatan ini ditentukan oleh mindset yang dimilikinya.

Untuk mendobrak mitos, calon entrepreneur harus mempersiapkan pendidikan dengan baik. Pendidikan merupakan fondasi yang sangat penting bagi entrepreneur. Ia berperan penting dalam membantu entrepreneur menghadapi masalah yang harus diselesaikannya. Sejarah memang telah mencatat ada sejumlah entrepreneur berasal dari siswa drop out seperti William Durant, Henry Ford, Andrew Carnegie, Thomas Alva Edison dan William Lear. Secara formal pendidikan mereka tidak begitu bagus, tetapi mereka melakukan proses pembelajaran sendiri, mereka menyerap explicit knowledge melalui learning by doing sehingga mereka berhasil menyusun skema berfikir untuk dijadikan panduan menghadapi persoalan.

Pada waktu lalu berkembang pemikiran yang membedakan secara dikotomis antara entrepreneur dan bukan entrepreneur. Entrepreneur dicirikan dengan orang yang kreatif – imajinatif, berfikir bebas sedangkan yang bukan entrepreneur biasanya lebih mengandalkan logika semata, miopik dan kaku.. Sekarang ini pendikotomian tersebut tidak berlaku. Menurut penelitian David Hills dari Center for Creative Leadership, USA diperoleh temuan bahwa setiap orang itu mampu untuk menjadi kreatif. Kreativitas itu bukan bakat tetapi sesuatu yang dapat dipelajari. Hambatan terjadinya kreativitas diantaranya adalah pola berfikir yang tradisional. Orang tidak pernah dipicu innate creativity-nya. Kreativitas dapat diasah dengan memfungsikan peran otak kanan antara lain dengan:

· Selalu mengembangkan pertanyaan, “Apakah ini cara terbaik”. Ini adalah suatu bentuk berfikir divergen.

· Melawan kebiasaan, rutinitas dan tradisi atau sesuatu yang telah mapan.

· Selalu melakukan refleksi, berfikir imajinatif.

· Play mental games, yaitu mencoba melihat persoalan dari perspektif yang berbeda seperti melalui analogi atau metafora.

· Terbuka untuk mendapatkan lebih dari satu jawaban yang benar

· Menautkan gagasan yang nampaknya tidak berhubungan dengan persoaan yang dihadapi untuk membangkitkan solusi yang inovatif.

· Mengembangkan “helicopter skill” yaitu kemampuan untuk melihat sesuatu persoalan dari perspektif yang lebih luas dan kemudian menukik kembali pada fokus persoalan dan mencari solusinya dengan berbagai alternatif solusi.

Harus diakui bahwa mengembangkan kreativitas itu bukan pekerjaan mudah. Hambatan eksternal seperti tekanan waktu, tidak ada dukungan dari manajemen, kebijakan perusahaan yang rigid adalah salah satu bentuk hambatan yang dihadapi oleh individu dalam mengembangkan kreativitas. Namun hambatan yang paling sulit untuk diatasi adalah hambatan yang berasal dari diri sendiri, yaitu berupa gembok mental yang menyebabkan kita tidak bisa berfikir merdeka. Sejumlah gembok mental yang kerap membatasi kreativitas, yakni:

 

1. Terfokus pada upaya mencari “satu jawaban yang benar”. Padahal setiap persoalan itu memiliki ambiguitas. Satu pertanyaan memiliki banyak jawaban yang benar.

2. Terlalu mengandalkan pada logika. Logika memang bagian penting dari proses kreatif, khususnya ketika mengevaluasi dan mengimplementasikan ide. Namun demikian pada fase proses imajinatif, berfikir logis sering menggembok kreativitas. Intuisi menjadi lebih penting, karena ia merupakan akumulasi pengetahuan dan pengalaman yang kaya dengan perspektif.

3. Mengikuti aturan dengan membuta. Kita sering tidak cukup berani untuk keluar dari aturan. Seringkali kreativitas itu muncul karena kemampuan kita untuk melanggar aturan yang sudah ada sehingga kita bisa melihat cara baru untuk melakukan sesuatu. Contoh yang sangat bagus adalah “Shinkasen Thinking”. Jepang tidak akan mampu menciptakan kereta peluru berkecepatan tinggi bila terpaku pada rule perkeretaapian yang sudah ada.

4. Selalu berorientasi praktis. Membayangkan jawaban yang terkadang tidak masuk akal dari suatu pertanyaan yang logis sering memberikan inspirasi terbentuknya ide kreatif.

5. Menjadi terlalu spesialis. Orang yang terlalu spesialis cenderung kurang tertarik pada sesuatu yang berada di luar bidangnya. Padahal pemikir kreatif cenderung mencari ide di luar wilayah spesialisasinya.

6. Menghindari ambiguitas. Ambiguitas dapat menjadi stimulus yang kuat bagi kreativitas. Ambiguitas mendorong kita untuk memikirkan sesuatu yang berbeda. Ada contoh menarik, Jeffrey Erexson seorang entrepreneur mengajukan pertanyaan, “apa itu kulit?” hampir semua orang mengatakan bahwa kulit adalah jangat binatang mamalia. Erexson kemudian bertanya lagi, “mengapa bukan jangat dari ikan?” Dengan menghargai ambigiuitas ia akhirnya menemukan peluang usaha dengan mendirikan Ocean Leather Inc.

7. Takut kelihatan bodoh. Berfikir kreatif itu tidak memberi tempat bagi konformitas. Ide-ide baru jarang lahir dari lingkungan yang konformis.

8. Takut berbuat kesalahan. Orang kreatif dalam mencoba gagasan baru sering menghadapi kegagalan. Namun mereka tidak melihat kegagalan sebagai akhir dari segalanya. Kegagalan adalah merupakan biaya belajar untuk sukses.

9. Cepat mengaku dirinya tidak kreatif. Banyak orang merasa dirinya tidak kreatif, karena mereka menganggap kreatif itu hanya milik segelintir orang.

 

About these ads

1 Komentar »

  1. Tolong pemerintah pusat segera mengusut dan menghentikan kegiatan suap CPNS Labuhanbatu Utara yg di perintahkan oleh Pjs.Bupati Labuhanbatu Utara (Bpk.Daudsyah) kpd oknum-oknum PNS tertentu / KADIS.
    Dengan maksud memasukkan Beberapa CPNS dengan cara menetapkan tarif S1 : @Rp.100 juta
    D3 : @Rp.75 juta. Dengan mengurus langsung berkas para calon CPNS itu ke jakarta. Sehingga terjadi kecurangan. Ini harus di hentikan karena masih banyak anak bangsa yang berani bersaing sehat tetapi tempat mereka telah di ambil dengan curang.

    Komentar oleh Anak bangsa — 28 Oktober 2009 @ 4:20 pm


Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The Rubric Theme. Blog pada WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: